JATI JUMBO®

Jika Anda mempunyai :

• Area kebun yang cukup luas,

• Tanah kosong yang masih pikir-pikir mau dimanfaatkan untuk apa,

• Halaman rumah yang cukup luas,

• Area penghijauan di pabrik-pabrik serta instansi pemerintah & swasta,

• Atau jika Anda tidak mempunyai tanah tetapi sanggup menyewa tanah cukup luas dalam masa panjang (25 tahun)

Maka sekaranglah Anda dapat mengetahui dan menentukan pilihan investasi dengan hasil yang luar biasa, lanjutkan mengetahui informasi dibawah ini.

JATI JUMBO adalah salah satu produk unggulan dari laboratorium kultur jaringan divisi perkebunan dan kehutanan PT NUSA INDAH HORTIMEX yang dilengkapi dengan sebuah bangunan laboratorium kultur jaringan modern seluas 800m² dan nursery pembibitan seluas 40.000m², terletak di Ciawi Bogor. Selain itu dilengkapi pula perkebunan untuk riset dan pengembangan tanaman induk, terletak di Cicurug Sukabumi seluas 60.000m². Sehingga dapat menjamin penyediaan bibit dalam jumlah besar, secara kontinyu dan bermutu tinggi.

JATI JUMBO® berasal dari klon Jati-Jati Super asal Myanmar dan Thailand, yang oleh para pakar Jati dibudidayakan dan dikembangkan selama puluhan tahun di kepulauan Solomon.

JATI JUMBO® punya ciri khas berikut :

1. Daun tidak terlalu melebar, namum tebal, kuat dan tumbuh condong keatas.              Pasangan-pasangan daun tumbuh dengan serasi dan warna hijau kebiru-biruan
(olive).

2. Batang tegak lurus vertical, bulat dan besar (sangat kokoh), tahan penyakit, tumbuh
sangat cepat, relatif sedikit bercabang.

3. Pucuk batang relatif kuat, jarang patah karena badai atau hama, sehingga tanaman     dapat tumbuh sempurna.

Tanaman Jati yang sering patah bagian pucuk, akan tumbuh  bercabang-cabang,         sehingga pohon tumbuh agak pendek dan hasil kayu akan  berkurang.

PROSPEK & ANALISA USAHA

PROSPEK

Melihat kenyataan kebutuhan kayu dunia yang semakin meningkat setiap tahun sementara areal hutan di masing-masing negara semakin berkurang, maka dapat diperkirakan beberapa tahun lagi dunia akan semakin sulit memenuhi kebutuhan kayu bermutu. Indonesia khususnya yang beberapa tahun lalu masih merupakan salah satu sentra produksi kayu dunia, kini bahkan sudah mulai kesulitan memenuhi kebutuhan kayu dalam negeri sendiri. Untuk kayu bermutu tinggi, kayu Jati khususnya, dapat diperkirakan akan lebih sulit lagi untuk mendapatkannya, maka dapat dipastikan harga akan semakin tinggi.

Indonesia yang letaknya disekitar ekuator, dengan sinar matahari yang cukup intensif dan panjang, ditunjang oleh curah hujan yang cukup dan tanah subur yang masih sangat luas, ditinjau secara komersial penanaman Jati jelas mempunyai prospek yang sangat cerah. Tidak mengherankan, beberapa tahun lalu usaha penanaman Jati secara komersial dibeberapa negara masih menjadi monopoli pemerintah.

Kini dengan semakin terbukanya dunia usaha, tersedianya jenis-jenis bibit Jati yang diproduksi melalui kultur jaringan yang sangat unggul, tumbuh cepat dan berkualitas tinggi, khususnya pada JATI JUMBO® akan menghasilkan kayu yang bermutu tinggi dan seragam dalam jumlah besar. Hal ini memperjelas prospek usaha yang lebih cerah.

ANALISA USAHA

Perkiraan biaya per hektar dalam 6 tahun pertama, bila 1 hektar ditanam 1.000 pohon.

Beli Bibit 1000xRp.17.500,-/pohon                          = Rp 17.500.000,-

Pupuk & Obat-obatan 1000xRp. 4.000,-/pohon   = Rp. 4.000.000,-

Biaya Tanam 1000xRp. 500,-/pohon                      = Rp.   500.000,-

Biaya pemeliharaan selama 6 tahun                       = Rp.18.000.000,-

————————-

Rp.40.000.000,-

Perkiraan hasil kayu (Jati muda) setelah 6 tahun pertama

500 pohon x 0,25m³ = 125m³ nilai 125m³ x Rp.5 juta,- = Rp. 750 juta,-

Perkiraan hasil kayu dari sisa penjarangan setelah berusia 15 tahun

500 pohon x 1,25m³ = 750m³ nilai 750m³ x Rp. 8 juta,-/m³ = Rp. 6,000 milyar,-

Bandingkan dengan metoda lain mana dari inevestasi yang dapat memberikan nilai tambah sebesar itu?

Catatan

Perkiraan pengeluaran biaya per hektar akan semakin rendah bila penanaman berskala lebih besar. Hasil kayu sangat bergantung pula pada kondisi kesuburan tanah dan curah hujan

ASPEK TEKNIS TANAM

• Tanaman berada di daerah tropis dengan curah hujan sekitar 1000-2000 mm/tahun, suhu 24-35°C, tanah berkapur, ketinggian dibawah 700m dari permukaan laut. Jati Jumbo sangat menyukai udara panas dengan terik matahari yang panjang.

• Jarak tanam sekitar 2.5-3meter per hektar 1000-1.200 pohon. Penanaman yang rapat dapat membantu tanaman tahan terhadap angin besar/badai dan tumbuh cepat keatas dengan sedikit bercabang. Setelah 6-7 tahun perlu dijarangkan (50%) agar tanaman Jati sisa dari penjarangan (50%) dapat tumbuh besar.

• Penanaman waktu musin hujan mempermudah pekerjaan pengairan/penyiraman namum musim kemaraupun dapat ditanam asal ada sistim pengairan/penyiraman.

CARA TANAM, PEMUPUKAN & PENGENDALIAN HAMA

• Membersihkan lahan, menentukan titik tanam dengan cara mengukur jarak sekitar 3-3,5m dan mematok lahan serta membuat lubang tanam berukuran 60cmx60cm sedalam 60cm.

• Mencampur tanah hasil galian dengan 4kg pupuk kandang ayng sudah matang, 100 gram kapur tani atau kapur dolomit, 200 gram NPK 15:15:15 setelah diaduk rata tanah campuran tersebut dikembalikan ke dalam lubang.

• Menanam Jati harus hati-hati, jangan terlampau dalam sehingga menutupi bagian batang terlalu dalam. Di tempat-tempat yang banyak tiupan angin diperlukan patok penyangga tanaman.

• Untuk daerah yang banyak rayap atau hama akar, seperti uret, uter-uter atau lainnya, taburkan sekitar 50 gram currater, ruby (Carbofuran) disekeliling batang.

• Penyiraman disesuaikan dengan kondisi lapangan.

• Pemupukan dapat diulangi setiap 3 bulan dengan NPK 15:15:15 sebanyak 100-150 gram/pohon.

• Serangan hama : pada umumnya pohon Jati Jumbo sangat tahan terhadap serangan hama. Ulat daun yang menyerang daun pada umumnya dapat diatasi dengan disemprot insektisida. Sedangkan serangan inger-inger, oleng-oleng yang melubangi batang dapat diatasi dengan paraffin, meni kayu dan semprotkan insektisida.

Pohon Jati umur 6-7 tahun dilakukan penjarangan sekitar 50% dengan cara tebang selang seling. Pohon Jati sisa penjarangan yang berjumlah sekitar 500-600 pohon setiap hektarnya akan tumbuh besar lebih cepat lagi.

Cara Teknis Budidaya Tanaman Sengon

Botani Sengon

Sengon dalam bahasa latin disebut Albazia Falcataria, termasuk famili Mimosaceae, keluarga petai – petaian. Di Indonesia, sengon memiliki beberapa nama daerah seperti berikut :

Jawa :jeunjing, jeunjing laut (sunda), kalbi, sengon landi, sengon laut, atau sengon sabrang (jawa).

Maluku : seja (Ambon), sikat (Banda), tawa (Ternate), dan gosui (Tidore)

Bagian terpenting yang mempunyai nilai ekonomi pada tanaman sengon adalah kayunya. Pohonnya dapat mencapai tinggi sekitar 30–45 meter dengan diameter batang sekitar 70 – 80 cm. Bentuk batang sengon bulat dan tidak berbanir. Kulit luarnya berwarna putih atau kelabu, tidak beralur dan tidak mengelupas. Berat jenis kayu rata-rata 0,33 dan termasuk kelas awet IV – V.

Kayu sengon digunakan untuk tiang bangunan rumah, papan peti kemas, peti kas, perabotan rumah tangga, pagar, tangkai dan kotak korek api, pulp, kertas dan lain-lainnya.

Tajuk tanaman sengon berbentuk menyerupai payung dengan rimbun daun yang tidak terlalu lebat. Daun sengon tersusun majemuk menyirip ganda dengan anak daunnya kecil-kecil dan mudah rontok. Warna daun sengon hijau pupus, berfungsi untuk memasak makanan dan sekaligus sebagai penyerap nitrogen dan karbon dioksida dari udara bebas.

Sengon memiliki akar tunggang yang cukup kuat menembus kedalam tanah, akar rambutnya tidak terlalu besar, tidak rimbun dan tidak menonjol kepermukaan tanah. Akar rambutnya berfungsi untuk menyimpan zat nitrogen, oleh karena itu tanah disekitar pohon sengon menjadi subur.

Dengan sifat-sifat kelebihan yang dimiliki sengon, maka banyak pohon sengon ditanam ditepi kawasan yang mudah terkena erosi dan menjadi salah satu kebijakan pemerintah melalui DEPHUTBUN untuk menggalakan ‘Sengonisasi’ di sekitar daerah aliran sungai (DAS) di Jawa, Bali dan Sumatra.

Bunga tanaman sengon tersusun dalam bentuk malai berukuran sekitar 0,5 – 1 cm, berwarna putih kekuning-kuningan dan sedikit berbulu. Setiap kuntum bunga mekar terdiri dari bunga jantan dan bunga betina, dengan cara penyerbukan yang dibantu oleh angin atau serangga.

Buah sengon berbentuk polong, pipih, tipis, dan panjangnya sekitar 6 – 12 cm. Setiap polong buah berisi 15 – 30 biji. Bentuk biji mirip perisai kecil dan jika sudah tua biji akan berwarna coklat kehitaman,agak keras, dan berlilin.

Habitat Sengon

Tanah

Tanaman Sengon dapat tumbuh baik pada tanah regosol, aluvial, dan latosol yang bertekstur lempung berpasir atau lempung berdebu dengan kemasaman tanah sekitar pH 6-7.

Iklim

Ketinggian tempat yang optimal untuk tanaman sengon antara 0 – 800 m dpl. Walapun demikian tanaman sengon ini masih dapat tumbuh sampai ketinggian 1500 m di atas permukaan laut. Sengon termasuk jenis tanaman tropis, sehingga untuk tumbuhnya memerlukan suhu sekitar 18 ° – 27 °C.

Curah Hujan

Curah hujan mempunyai beberapa fungsi untuk tanaman, diantaranya sebagai pelarut zat nutrisi, pembentuk gula dan pati, sarana transpor hara dalam tanaman, pertumbuhan sel dan pembentukan enzim, dan menjaga stabilitas suhu. Tanaman sengon membutuhkan batas curah hujan minimum yang sesuai, yaitu 15 hari hujan dalam 4 bulan terkering, namun juga tidak terlalu basah, dan memiliki curah hujan tahunan yang berkisar antara 2000 – 4000 mm.

Kelembaban

Kelembaban juga mempengaruhi setiap tanaman. Reaksi setiap tanaman terhadap kelembaban tergantung pada jenis tanaman itu sendiri. Tanaman sengon membutuhkan kelembaban sekitar 50%-75%.

Keragaman Penggunaan dan Manfaat Kayu sengon

Pohon sengon merupakan pohon yang serba guna. Dari mulai daun hingga perakarannya dapat dimanfaatkan untuk beragam keperluan.

Daun

Daun Sengon, sebagaimana famili Mimosaceae lainnya merupakan pakan ternak yang sangat baik dan mengandung protein tinggi. Jenis ternak seperti sapi, kerbau, dfan kambingmenyukai daun sengon tersebut.

Perakaran

Sistem perakaran sengon banyak mengandung nodul akar sebagai hasil simbiosis dengan bakteri Rhizobium. Hal ini menguntungkan bagi akar dan sekitarnya. Keberadaan nodul akar dapat membantu porositas tanah dan openyediaan unsur nitrogen dalam tanah. Dengan demikian pohon sengon dapat membuat tanah disekitarnya menjadi lebih subur. Selanjutnya tanah ini dapat ditanami dengan tanaman palawija sehingga mampu meningkatkan pendapatan petani penggarapnya.

Kayu

Bagian yang memberikan manfaat yang paling besar dari pohon sengon adalah batang kayunya. Dengan harga yang cukup menggiurkan saat ini sengon banyak diusahakan untuk berbagai keperluan dalam bentuk kayu olahan berupa papan papan dengan ukuran tertentu sebagai bahan baku pembuat peti, papan penyekat, pengecoran semen dalam kontruksi, industri korek api, pensil, papan partikel, bahan baku industri pulp kertas dll.

Pembibitan Sengon

a) Benih

Pada umumnya tanaman sengon diperbanyak dengan bijinya. Biji sengon yang dijadikan benih harus terjamin mutunya. Benih yang baik adalah benih yang berasal dari induk tanaman sengon yang memiliki sifat-sifat genetik yang baik, bentuk fisiknya tegak lurus dan tegar, tidak menjadi inang dari hama ataupun penyakit. Ciri-ciri penampakan benih sengon yang baik sebagai berikut :

Kulit bersih berwarna coklat tua

Ukuran benih maksimum

Tenggelam dalam air ketika benih direndam, dan

Bentuk benih masih utuh.

Selain penampakan visual tersebut, juga perlu diperhatikan daya tumbuh dan daya hidupnya, dengan memeriksa kondisi lembaga dan cadangan makanannya dengan mengupas benih tersebut. Jika lembaganya masih utuh dan cukup besar, maka daya tumbuhnya tinggi.

b) Kebutuhan Benih

Jumlah benih sengon yang dibutuhkan untuk luas lahan yang hendak ditanami dapat dihitung dengan menggunakan rumus perhitungan sederhana berikut :

Keterangan :

Luas kebun penanaman sengon 1 hektar (panjang= 100 m dan lebar= 100 m)

Jarak tanam 3 x 2 meter

Satu lubang satu benih sengon

Satu kilogram benih berisi 40.000 butir

Daya tumbuh 60 %

Tingkat kematian selama di persemaian 15 %

Dengan demikian jumlah benih = 100 / 3 x 100/2 x 1 = 1.667 butir. Namun dengan memperhitungkan daya tumbuh dan tingkat kematiannnya, maka secara matematis dibutuhkan 3.705 butir. Sedangkan operasionalnya, untuk kebun seluas satu hektar dengan jarak tanam 3 x 2 meter dibutuhkan benih sengon kira-kira 92,62 gram, atau dibulatkan menjadi 100 gram.

c) Perlakuan benih

Sehubungan dengan biji sengon memiliki kulit yang liat dan tebal serta segera berkecambah apabila dalam keadaan lembab, maka sebelum benih disemaikan , sebaiknya dilakukan treatment guna membangun perkecambahan benih tersebut, yaitu : Benih direndam dalam air panas mendidih (80 C) selama 15 – 30 menit. Setelah itu, benih direndam kembali dalam air dingin sekitar 24 jam, lalu ditiriskan. untuk selanjutnya benih siap untuk disemaikan.

d) Pemilihan Lokasi Persemaian

Keberhasilan persemaian benih sengon ditentukan oleh ketepatan dalam pemilihan tempat. Oleh karena itu perlu diperhatikan beberapa persyaratan memilih tempat persemaian sebagai berikut :

Lokasi persemaian dipilih tempat yang datar atau dengan derajat kemiringan maksimum 5 %

Diupayakan memilih lokasi yang memiliki sumber air yang mudah diperoleh sepanjang musim ( dekat dengan mata air, dekat sungai atau dekat persawahan).

Kondisi tanahnya gembur dan subur, tidak berbatu/kerikil, tidak mengandunh tanah liat.

Berdekatan dengan kebun penanaman dan jalan angkutan, guna menghindari kerusakan bibit pada waktu pengangkutan.

Untuk memenuhi kebutuhan bibit dalam jumlah besar perlu dibangun persemaian yang didukung dengan sarana dan prasarana pendukung yang memadai, antara lain bangunan persemaian, sarana dan prasarana pendukung, sarana produksi tanaman dll. Selain itu ditunjang dengan ilmu pengetahuan yang cukup diandalkan.


Pembibitan Sengon

a) Benih

Pada umumnya tanaman sengon diperbanyak dengan bijinya. Biji sengon yang dijadikan benih harus terjamin mutunya. Benih yang baik adalah benih yang berasal dari induk tanaman sengon yang memiliki sifat-sifat genetik yang baik, bentuk fisiknya tegak lurus dan tegar, tidak menjadi inang dari hama ataupun penyakit. Ciri-ciri penampakan benih sengon yang baik sebagai berikut :

Kulit bersih berwarna coklat tua

Ukuran benih maksimum

Tenggelam dalam air ketika benih direndam, dan

Bentuk benih masih utuh.

Selain penampakan visual tersebut, juga perlu diperhatikan daya tumbuh dan daya hidupnya, dengan memeriksa kondisi lembaga dan cadangan makanannya dengan mengupas benih tersebut. Jika lembaganya masih utuh dan cukup besar, maka daya tumbuhnya tinggi.

b) Kebutuhan Benih

Jumlah benih sengon yang dibutuhkan untuk luas lahan yang hendak ditanami dapat dihitung dengan menggunakan rumus perhitungan sederhana berikut :

Keterangan :

Luas kebun penanaman sengon 1 hektar (panjang= 100 m dan lebar= 100 m)

Jarak tanam 3 x 2 meter

Satu lubang satu benih sengon

Satu kilogram benih berisi 40.000 butir

Daya tumbuh 60 %

Tingkat kematian selama di persemaian 15 %

Dengan demikian jumlah benih = 100 / 3 x 100/2 x 1 = 1.667 butir. Namun dengan memperhitungkan daya tumbuh dan tingkat kematiannnya, maka secara matematis dibutuhkan 3.705 butir. Sedangkan operasionalnya, untuk kebun seluas satu hektar dengan jarak tanam 3 x 2 meter dibutuhkan benih sengon kira-kira 92,62 gram, atau dibulatkan menjadi 100 gram.

c) Perlakuan benih

Sehubungan dengan biji sengon memiliki kulit yang liat dan tebal serta segera berkecambah apabila dalam keadaan lembab, maka sebelum benih disemaikan , sebaiknya dilakukan treatment guna membangun perkecambahan benih tersebut, yaitu : Benih direndam dalam air panas mendidih (80 C) selama 15 – 30 menit. Setelah itu, benih direndam kembali dalam air dingin sekitar 24 jam, lalu ditiriskan. untuk selanjutnya benih siap untuk disemaikan.

d) Pemilihan Lokasi Persemaian

Keberhasilan persemaian benih sengon ditentukan oleh ketepatan dalam pemilihan tempat. Oleh karena itu perlu diperhatikan beberapa persyaratan memilih tempat persemaian sebagai berikut :

Lokasi persemaian dipilih tempat yang datar atau dengan derajat kemiringan maksimum 5 %

Diupayakan memilih lokasi yang memiliki sumber air yang mudah diperoleh sepanjang musim ( dekat dengan mata air, dekat sungai atau dekat persawahan).

Kondisi tanahnya gembur dan subur, tidak berbatu/kerikil, tidak mengandunh tanah liat.

Berdekatan dengan kebun penanaman dan jalan angkutan, guna menghindari kerusakan bibit pada waktu pengangkutan.

Untuk memenuhi kebutuhan bibit dalam jumlah besar perlu dibangun persemaian yang didukung dengan sarana dan prasarana pendukung yang memadai, antara lain bangunan persemaian, sarana dan prasarana pendukung, sarana produksi tanaman dll. Selain itu ditunjang dengan ilmu pengetahuan yang cukup diandalkan.


Langkah-Langkah Penyemaian Benih Sengon

Terlepas dari kegiatan pembangunan dan penyediaan sarana dan prasarana pendukung maka langkah-langkah penyemaian benih dapat dibagi benjadi tahap – tahap kegiatan sebagai berikut:

a) Penaburan

Kegiatan penaburan dilakukan dengan maksud untuk memperoleh prosentase kecambah yang maksimal dan menghasilkan kecambah yang sehat. Kualitas kecambah ini akan mendukung terhadap pertumbuhan bibit tanaman, kecambah yang baik akan menghasilkan bibit yang baik pula dan hal ini akan dapat membentuk tegakan yang berkualitas.

Bahan dan alat yang perlu diperhatikan dalam kegiatan penaburan adalah sebagai berikut :

Benih

Bedeng tabur/bedeng kecambah

Media Tabur, campuran pasir dengan tanah 1 : 1

Peralatan penyiraman

Tersedianya air yang cukup

dan sebagainya.

Teknik pelaksanaan, bedeng tabur dibuat dari bahan kayu/bambu dengan atap rumbia dengan ukuran bak tabur 5 x 1 m ukuran tinggi naungan depan 75 cm belakang 50 cm.. kemudian bedeng tabur disi dengan media tabur setebal 10 cm , usahakan agar media tabur ini bebas dari kotoran/sampah untuk menghindari timbulnya penyakit pada kecambah.

Penaburan benih pada media tabur dilakukan setelah benih mendapat perlakuan guna mempercepat proses berkecambah dan memperoleh prosen kecambah yang maksimal. Penaburaan dilakukan pada waktu pagi hari atau sore hari untuk menghindari terjadinya penguapan yang berlebihan.

Penaburan ini ditempatkan pada larikan yang sudah dibuat sebelumnya, ukuran larikan tabur ini berjara 5 cm antar larikan dengan kedalaman kira – kira 2,0 cm. Usahakan benih tidak saling tumpang tindih agar pertumbuhan kecambah tidak bertumpuk. Setelah kecambah berumur 7 – 10 hari maka kecambah siap untuk dilakukan penyapihan.

Penyapihan Bibit

Langkah-langkah kegiatan penyapihan bibit antara lain adalah :

Siapkan kantong plastik ukuran 10 x 20 cm, dan dilubangi kecil-kecil sekitar 2 – 4 lubang pada bagian sisi-sisinya.

Masukkan media tanam yang berupa campuran tanah subur, pasir dan pupuk kandang (1:1:1). Jika tanah cukup gembur, jumlah pasir dikurangi.

Setelah media tanam tercampur merata, kemudian dimasukkan ke dalam kantong plasitk setinggi ¾ bagian, barulah kecambah sengon ditanam, setiap kantong diberi satu batang kecambah.

Kantong plastik yang telah berisi anakan, diletakkan dibawah para-para yang diberi atap jerami atau daun kelapa, agar tidak langsung tersengat terik matahari.

Pada masa pertumbuhan anakan semai sampai pada saat kondisi bibit layak untuk ditanam di lapangan perlu dilakukan pemeliharaan secara intensip.

c) Pemeliharaan

Pemeliharaan yang dilakukan terhadap bibit dipersemaian adalah sebagai berikut :

Penyiraman

Penyiraman yang optimum akan memberikan pertumbuhan yang optimum pada semai / bibit. Penyiraman dilakukan pada pagi dan sore hari maupun siang hari dengan menggunakan nozle. Selanjutnya pada kondisi tertentu, penyiraman dapat dilakukan lebih banyak dari keadaan normal, yaitu pada saat bibit baru dipindah dari naungan ke areal terbuka dan hari yang panas.

Pemupukan

Pemupukan dilakukan dengan menggunakan larutan “gir”. Adapun pembuatan larutan “gir: sebagai berikut :

Disiapkan drum bekas dan separuh volumenya diisi pupuk kandang. Tambahkan air sampai volumenya ¾ bagian, kemudian tambahkan 15 kg TSP, lalu diaduk rata. Biarkan selama seminggu dan setelah itu digunakan untuk pemupukan.

Dosis pemupukan sebanyak 2 sendok makan per 2 minggu, pada umur 6 bulan, ketika tingginya 70 – 125 cm, bibit siap dipindahkan ke kebun.

Penyulaman

Penyulaman dilakukan apabila bibit ada yang mati dan perlu dilakukan dengan segera agar bibit sulaman tidak tertinggal jauh dengan bibit lainnya.

Penyiangan

Penyiangan terhadap gulma, dilakukan dengan mencabut satu per satu dan bila perlu dibantu dengan alat pencungkil, namun dilakukan hati –hati agar jangan sampai akar bibit terganggu.

Pengendalian Hama dan Penyakit

Beberapa hama yang biasa menyerang bibit adalah semut, tikus rayap, dan cacing, sedangkan yang tergolong penyakit ialah kerusakan bibit yang disebabkan oleh cendawan.

Seleksi bibit

Kegiatan seleksi bibit merupakan kegiatan yang dilakukan sebelum bibit dimutasikan kelapangan, maksudnya yaitu mengelompokan bibit yang baik dari bibit yang kurang baik pertumbuhannya. Bibit yang baik merupakan prioritas pertama yang bisa dimutasikan kelapangan untuk ditanam sedangkan bibit yang kurang baik pertumbuhannya dilakukan pemeliharaan yang lebih intensip guna memacu pertumbuhan bibit sehingga diharapkan pada saat waktu tanam tiba kondisi bibit mempunyai kualitas yang merata.

Penyiapan Lahan

Penyiapan lahan pada prinsipnya membebaskan lahan dari tumbuhan pengganggu atau komponen lain dengan maksud untuk memberikan ruang tumbuh kepada tanaman yang akan dibudidayakan. Cara pelaksanaan penyipan lahan digolongkan menjadi 3 cara, yaitu cara mekanik, semi mekanik dan manual. Jenis kegiatannya terbagi menjadi dua tahap ;

Pembersihan lahan, yaitu berupa kegiatan penebasan terhadap semak belukar dan padang rumput. Selanjutnya ditumpuk pada tempat tertentu agar tidak mengganggu ruang tumbuh tanaman.

Pengolahan tanah, dimaksudkan untuk memperbaiki struktur tanah dengan cara mencanggkul atau membajak (sesuai dengan kebutuhan).

Penanaman

Jenis kegiatan yang dilakukan berupa :

Pembuatan dan pemasangan ajir tanam

Ajir dapa dibuat dari bahan bambu atau kayu dengan ukuran, panjang 0,5 – 1 m, lebar 1 – 1,5 cm. Pemasangangan ajir dimaksudkan untuk memberikan tanda dimana bibit harus ditanam, dengan demikian pemasangan ajir tersebut harus sesuai dengan jarak tanam yang digunakan

Pembuatan lobang tanam, lobang tanam dibuat dengan ukuran 30 x 30 x 30 cm tepat pada ajir yang sudah terpasang.

Pengangkutan bibit, ada dua macam pengangkutan bibit yaitu pengankuatan bibit dari lokasi persemaian ketempat penampungan bibit sementara di lapangan (lokasi penanaman), dan pengangkutan bibit dari tempat penampungan sementara ke tempat penanaman.

Penanaman bibit, pelaksanaan kegiatan penanaman harus dilakukan secara hati – hati agar bibit tidak rusak dan penempatan bibit pada lobang tanam harus tepat ditengah-tengah serta akar bibit tidak terlipat, hal ini akan berpengaruh terhadap pertumbuhan bibit selanjutnya.

Pemeliharaan

Kegiatan pemeliharaan yang dilakukan berupa kegiatan

Penyulaman, yaitu penggantian tanaman yang mati atau sakit dengan tanaman yang baik, penyulaman pertama dilakukan sekitar 2-4 minggu setelah tanam, penyulaman kedua dilakukan pada waktu pemeliharaan tahun pertama (sebelum tanaman berumur 1 tahun). Agar pertumbuhan bibit sulaman tidak tertinggal dengan tanaman lain, maka dipilih bibit yang baik disertai pemeliharaan yang intensif.

Penyiangan,

Pada dasarnya kegiatan penyiangan dilakukan untuk membebaskan tanaman pokok dari tanaman penggagu dengancara membersihkan gulma yang tumbuh liar di sekeliling tanaman, agar kemampuan kerja akar dalam menyerap unsur hara dapat berjalan secara optimal. Disamping itu tindakan penyiangan juga dimaksudkan untuk mencegah datangnya hama dan penyakit yang biasanya menjadikan rumput atau gulma lain sebagai tempat persembunyiannya, sekaligus untuk memutus daur hidupnya.

Penyiangan dilakukan pada tahun-tahun permulaan sejak penanaman agar pertumbuhan tanaman sengon tidak kerdil atau terhambat, selanjutnya pada awal maupun akhir musim penghujan, karena pada waktu itu banyak gulma yang tumbuh.

Pendangiran,

Pendangiran yaitu usaha mengemburkan tanah disekitar tanaman dengan maksud untuk memperbaiki struktur tanah yang berguna bagi pertumbuhan tanman.

Pemangkasan,

Melakukan pemotongan cabang pohon yang tidak berguna (tergantung dari tujuan penanaman).

Penjarangan

Penjarangan dillakukan untuk memberikan ruang tumbuh yang lebih leluasa bagi tanaman sengon yang tinggal. Kegiatan ini dilakukan pada saat tanaman berumur 2 dan 4 tahun, Penjarangan pertama dilakukan sebesar 25 %, maka banyaknya pohon yang ditebang 332 pohon per hektar, sehingga tanaman yang tersisa sebanyak 1000 batang setiap hektarnya dan penjarangan kedua sebesar 40 % dari pohon yang ada ( 400 pohon/ha ) dan sisanya 600 pohon dalam setiap hektarnya merupakan tegakan sisa yang akan ditebang pada akhir daur.

Cara penjarangan dilakukan dengan menebang pohon-pohon sengon menurut sistem “untu walang” (gigi belakang) yaitu : dengan menebang selang satu pohon pada tiap barisan dan lajur penanaman.

Sesuai dengan daur tebang tanaman sengon yang direncanakan yaitu selama 5 tahun maka pemeliharaan pun dilakukan selama lima tahun. Jenis kegiatan pemeliharaan yang dilaksanakan disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan tanaman. Pemeliharaan tahun I sampai dengan tahun ke III kegiatan pemeliharaan yang dilaksanakan dapat berupa kegiatan penyulaman, penyiangan, pendangiran, pemupukan dan pemangkasan cabang. Pemeliharaan lanjutan berupa kegiatan penjarangan dengan maksud untuk memberikan ruang tumbuh kepada tanaman yang akan dipertahankan, presentasi dan prekuensi penjarangan disesuaikan dengan aturan standar teknis kehutanan yang ada.

http://www.lablink.or.id/

Jadi Pengusaha Bahan Bangunan

Sebagai Batu Loncatan untuk Jadi Kontraktor?

Usaha pembuatan bahan-bahan bangunan tergolong bisnis yang cukup prospektif. Peluangnya lumayan bagus. Disamping ada kaitannya dengan semakin banyaknya jumlah penduduk, usaha ini juga mengikuti perkembangan ekonomi masyarakat.

Semakin baik tingkat ekonomi masyarakat, peluang usaha ini juga semakin lebar. Saat ini masyarakat tampaknya sudah mulai meninggalkan tradisi membuat rumah dari kayu, selain karena kayu sudah mulai mahal, membuat rumah dari batu-bata ataupun batako ternyata lebih praktis.

Pemerintah sendiri saat ini sedang gencar-gencarnya melakukan pembagunan fisik untuk kepentingan masyarakat, mulai pembuatan jalan, jembatan, perumahan, perkantoran. Selain itu juga banyak sarana kepentingan umum yang sudah mulai minta direhab.

Program tersebut yang jelas semakin membuka pasar bagi bahan-bahan/produk bahan bangunan, dari pasir, semen, batu-bata, batako, genting, dan lain-lainnya.

Salah seorang yang jukup jeli menangkap peluang tersebut adalah Boyamin (40) warga Desa Pandean, Kecamatan Dongko Kabupaten Trenggalek yang mengawali usaha penyediaan bahan bangunan sejak 2003.

Boyamin memang sudah tidak asing dengan hal-hal yang ada kaitannya dengan bangunan, karena sejak masih bujang ia sudah berkecimpung di pertukangan, baik pertukangan batu maupun peertukangan kayu. Bahkan, sempat merantau ke Jakarta selama 7 tahun.

’’Saat masih bujang saya bekerja di Jakarta cukup lama, yaitu sejak 1991 sampai 1998. Sebelum terjadi kerusuhan (Mei 1998, Red) saya sudah pulang. Yang saya kerjakan di sana ya sebagai tukang bangunan dan kadang-kadang kalau ada nasib cukup baik saya juga ikut mborong, tapi sebatas pekerjaan atau proyek yang kecil- kecil saja,’’tutur Boyamin.

Sempat Nganggur
Sepulang dari Jakarta Boyamin sempat nganggur. Sesekali saja ada orang yang menyuruh mengerjakan bangunan rumah. Hal itu ia jalani sampai ia menikah dengan Supatmi (29). Setelah menikah baru ia punya rencana untuk buka usaha.

’’Sebenarnya usaha berawal dari pembuatan maesan, saat itu timbang nganggur saja jadi sama sekali hasilnya tidak dapat diharapkan karena belum pasti kalau sebulan sekali ada yang terjual,’’ ujar Supatmi.

’’Kemudiaan saya dan suami punya pikiran bagaimana kalau kita coba membuat gorong-gorong, karena saat itu setiap musim kemarau banyak orang yang membutuhkan untuk membuat sumur dan buk (jembatan, Red), dan mereka biasanya banyak membeli dari kota karena saat itu selain di wilayah perkotaan belum ada yang membuat,’’ imbuhnya.

Ide tersebut menurut penuturannya diwujudkan pada Tahun 2003 dan secara pelan-pelan dikembangkan, yang semula hanya nisan dengan gorong-gorong kemudian ditambah dengan membuat batako dan risplang, itupun pembuatannya sebatas kalau ada yang pesan.

Bertambah Tahun perkembanganya cukup lumayan bahkan untuk pembuatannya yang saat itu dilakukan sendiri hanya dibantu dengan seorang karyawan, mulai kuwalahan hingga sampai saat ini Boyamin memiliki 15 orang karyawan.

Adapun saat ini dengan karyawan 15 orang, usaha Boyamin ini dalam hal produksinya sudah cukup lengkap, antara lain batako, paving, risplang, gorong-gorong, gibsum, dan masih banyak jenisnya. Yang jelas saat ini ia bisa melayani apa saja pesanan yang berhubungan dengan keperluan bangunan khususnya yang dari cetakan.

Mengikuti Pasar
Apa yan g diproduksi, lebih ditentukan oleh permintaan pasar atau pesanan. ’’Dalam hal produksi jenis apa yang ramai atau banyak permintaan yaitu yang banyak saya buat. Sampai saat ini saya belum berani untuk produksi secara masal. Masalahnya kalau lama tidak laku hitungannya bisa rugi. Namunm, biarpun ada pesanan yang mendadak saya tetap bisa mengusahakan,’’ ujar Boyamin.

Pemasaran hasil produksinya ternyata masih sebatas satu wilayah kecamatan saja. Namun demikian, menurut penuturannya, saat ini sudah mulai cukup kuwalahan melayani pelanggan. Pasalnya ada kendala dari pasokan bahan baku pasir yang agak kurang lancar.

Bila pasokan pasir tidak lancar kadang-kadang harga tinggi pun terpaksa ia beli hal ini mengingat pasir merupakan bahan utama untuk produksinya sehingga nantinya yang jelas pendapatan yang diperolehnya akan minim.

’’Kalau pasir sepi mas, yang jelas harganya mahal, namun terpaksa kita beli tapi yang jelas nanti hasilnya nipis banget,’’ tutur Boyamin.

Hitung-hitungannya menurut Boyamin dari satu truk pasir antara lain untuk batako ukuran 30 x 15 cm bisa menghasilkan sebanyak 500 buah, sedangkan untuk gorong-gorong berkisar antara 20 sampai 30 buah, tergantung dari ukuran barangnya.

Dari segi harga ternyata cukup terjangkau semisal batako per bijinya dilepas dengan harga Rp 1.700 sampai Rp 2.000, sedang gorong-gorong untuk ukuran diameter 20 Cm dilepas dengan harga Rp 25.000 dan ukuran diameter 80 cm dilepas Rp 50.000.

’’Tentang harga itu semua bisa diatur, tinggal permintaan pembeli tapi yang jelas bila minta yang murah kualitasnya pun juga agak rendah,’’ ujarnya.
Saat ditannya berapa omzet perbulannya dengan tersenyum ia enggan untuk menjelaskan. ’’Bagaimana ya saya tidak bisa menjelaskan ibunya itu mungkin karena ia yang ngurus uangnya,’’ tutur Boyamin sambil melirik istrinya

’’Saya sendiri kalau ditanya berapa, angkanya secara pasti tidak bisa, tapi yang jelas untuk bayaran karyawan setiap orangnya harus menyediakan Rp 20 000, namun itu pun tidak setiap hari semua bekerja, dan lagian tiap bulannya tidak pasti kalau selalu ramai. Bahkan pernah dalam sebulan karyawan hanya memproduksi saja dan untuk memenuhi kebutuhan hanya mengandalkan dari pembelian partai kecil saja,’’ tambah Supatmi.

Modal Telaten
’’Usaha seperti ini yang penting telaten apa lagi saat ini semakin banyak yang membuka usaha sejenis, makanya saya tidak berani untuk memproduksi secara massal. Tapi yang jelas bila ada pemasukan sedikit demi sedikit saya sisihkan untuk tambah modal,’’ tutur Boyamin.

’’Yang penting lagi kita jangan sampai patah semangat, biarpun hanya memiliki modal sedikit pokok telaten dan pandai-pandai mengatur uang akhirnya besar juga. Bila mengingat usaha saya ini yang dulunya hanya jual maesan, banyak yang menduga kalau saya dapat suntikan dana. Sama sekali tidak ya hasil dari penjualan itu yang saya buat mengembangkannya. Tapi yang jelas kita harus kuat puasa untuk pengeluaran di luar kepentingan usaha,’’ tambah Supatmi.

Kendala usaha ini menurut penuturan Boyamin saat ini semakin banyak saingan tapi baginya rezeki itu sudah ada yang mengatur. Tapi meskipun banyak yang membuka usaha sejenis ia tetap optimis bahwa usaha ini tetap memiliki prospek yang bagus karena semakin banyak pula yang membutuhkan.

’’Memang sekarang saingan semakin banyak tapi Alhamdullah permintaan sampai saat ini tidak ada penurunan, bahkan saat ini sudah ada pesanan 6000 buah batako yang belum selesai saya kerjakan. Hanya saja karena semakin banyak usaha sejenis, menjadikan kendala pasokan bahan baku pasir sering telat,’’ jelasnya.

’’Selain itu bagi saya saat ini yang menjadi kendala justru lokasi produksi yang semakin sempit, tempatnya sudah tidak cukup lagi. Makanya sekitar 4 bulan yang lalu saya membuka cabang di wilayah lain sekaligus memperluas usaha,’’ tambah Boyamin.

Menurut Supatmi usaha yang dirintis mulai dari nol sampai bisa berkembang sampai sekarang tidak terlepas dari kiat usaha yang dimilikinya.

’’Ya untungnya suami saya itu cukup menguasai tentang seluk beluk bangunan jadi tentang hitung-hitungan masalah bangunan mulai dari nol atau mulai dari material sampai jadi bangunan yang siap huni ia bisa memperkirakan berapa biaya yang diperlukan,’’ tutur Supatmi.

’’Sering ada pelanggan yang ingin memuat rumah minta tolong pada suami saya untuk menghitungkan berapa biasa yang harus disediakan, bahkan ada yang sekaligus minta tolong untuk membuatkan gambar,’’ tambahnya.

’’Ya idep-idep promosi kan tidak rugi, untuk sekedar membuatkan gambar dan menghitung besaran biaya yang diperlukan tidak berat dan itu sama sekali saya tidak menarik biaya atau imbalan uang. Tapi yang jelas biasanya mereka mengambil bahan-bahannya dari sini terutama batako, tiang beton, dan risplang, ada juga yang pernah beli gibsum dan suruh masang sekalian. Itu pun tetap saya layani,’’ tutur Boyamin.

Tampaknya kedepan Boyamin memiliki ancang-ancang untuk mulai mengembangkan usaha selain sebagai penyedia bahan bangunan sekaligus menjadi pemborong. Hal ini berdasar penuturannya bahwa ia telah beberapa kali bersama karyawannya mengerjakan pembuatan rumah dan sering melayani pembelian risplang, gibsum, beserta pemasangannya.

Buka Cabang
Karena terkendala luas lokasi produksinya sudah tidak mencukupi lagi Boyamin berusaha membuka cabangnya yang lokasinya justru dekat dengan kota kecamatan, dan notabene diwiyayah itubanyak terdapat usaha sejenis.

Hal tersebut ternyata memang disengaja selain karena kebetulan adiknya bertempat tinggal didekat lokasi cabang usahanya itu sekaligus adiknyalah yang disuruh untuk mengurus cabang usahanya.

’’Kebetulan saya punya tanah di Dongko. Berhubung saya kekurangan tempat produksi, maka tanah tersebut saya jadikan lokasi produksi, sekaligus untuk menjajagi bagaimana bila usaha di tempat yang telah banyak berdiri usaha sejenis,’’ ujarnya.

Awalnya di lokasi yang baru tersebut hanya memproduksi pesanan yang yang telah masuk di rumah produksinya yaitu Pandean. Karyawannya juga diambilkan dari lamanya dari 15 orang yang ada dirumahnya yang 3 orang dibawa ke cabangnya yang ada di Dongko.

Namun lama kelamaan di cabangnya-pun mulai mendapatkan pelanggan. Menurut penuturannya saat ini dengan 3 orang karyawan juga mulai kuwalahan.

’’Ternyata biarpun didekat lokasi cabang saya itu banyak terdapat usaha sejenis dari segi pasar tidak menjadi soal buktinya saat ini seperti batako misalnya, seandainya mentolo masih belum kering-pun sudah ada yang mau ngangkut,’’ tutur Boyamin. [pur]

http://nglarankita.blogspot.com

Bisnis Kolam Renang

Di Mana Menariknya Bisnis Kolam Renang?

Ada beberapa hal yang membuat bisnis kolam renang itu menarik bagi beberapa orang. Berikut ini ringkasannya.

Asetnya Utuh

Bisnis kolam renang, pada dasarnya adalah bisnis jasa penyewaan property (berupa kolam renang). Dengan mengingat bahwa property (kolam renang) yang disewakan adalah senantiasa dijaga (attended) oleh pemilik atau pegawainya, maka cenderung akan senantiasa ‘utuh’. Jadi, tidak sama dengan bisnis ‘dagang beras’. Kalau berasnya terjual, maka berasnya ‘hilang’/habis, dan pengusaha/pedagang, harus kulakan lagi. Berbeda pula dengan bisnis penyewaan mobil, dimana barang yang disewakan cenderung jatuh harganya cepat sekali, seperti berdagang buah atau sayuran. Jadi, ini titik menarik yang pertama: investasi kita relatif senantiasa utuh (bahkan berkembang seiring dengan kenaikan harga tanah/property). Seapes-apesnya, kolam renang itu sepi, dan bisa dijual kembali dengan nilai jual yang sesuai harga propertynya yang cenderung terus naik dari waktu ke waktu.

Murah Biaya Operasionalnya

Yang kedua, bisnis ini relatif murah biaya operasionalnya, karena itu bisa dianggap sebagai bisnis jasa-jasa murni, seperti bisnis hotel, salon, tukang cukur, bengkel mobil, penyewaan apartemen, penyewaan lapangan badminton, penyewaan lapangan tenis, atau penyewaan lapangan futsal, seperti itu. Tidak ada biaya kulak yang tinggi seperti toko/mini-mart atau perdagangan pada umumnya. Ujungnya dari biaya operasional yang murah ini nanti apa? Benar sekali: margin keuntungan yang relatif tinggi.

Tidak Perlu Banyak Tenaga Terampil

Yang ketiga, bisnis kolam renang relatif tidak terlalu memerlukan tenaga amat terampil, dan juga tidak memerlukan banyak pegawai. Jadi, lebih mirip penyewaan apartemen saja, atau penyewaan lapangan olah raga (stadion, futsal, badminton, tenis, dlsb). Bisnis hotel, masih memerlukan pegawai dalam jumlah banyak, dengan ketrampilan pelayanan yang tinggi. Salon dan tukang cukur, perlu tenaga penyalon dan penyukur yang handal. Bengkel mobil, idem ditto, perlu montir terampil. Mendapatkan pegawai terampil, ini bisa merupakan kendala kunci bagi enterpreuner. Demikian pula, mengelola pegawai dalam jumlah banyak, itu juga bisa menjadi kendala bagi enterpreuner. Dalam bisnis kolam renang, ini nyaris bukan kendala!

Tetap Menyerap Tenaga Kerja

Yang keempat,… walau tidak memerlukan tenaga terampil dalam jumlah banyak, kurang lebih cuma seperti toko/mini-mart/mracang, tapi bisnis kolam renang ini tetap menyerap tenaga kerja juga, manajer kolam, lalu pegawai yang bertugas jaga/mengawasi perenang, urusan karcis, memelihara kebersihan/operasional kolam, memelihara kebersihan umum, bisa juga ada pegawai untuk bisnis sampingan bagian penjualan makanan dan toko, juru parkir, dst. Di kolam kita, para guru renang, bisa juga mendapatkan nafkahnya. Bagi seorang ‘visioner’ di daerah, yang ingin berkontribusi untuk kampung halaman, ini bisa menjadi peluang yang pas.

Bayangkanlah, anda punya saudara-saudara, handai taulan, katakanlah, lima orang,… ada yang cuma lulusan SMA, ada yang lulusan perguruan tinggi atau jebolan perguruan tinggi tapi tidak punya keahlian istimewa apa-apa,… ada seorang yang sudah berumur, bisa manajemen dikit-dikit, terpercaya, tapi tidak punya penghasilan yang besar. Sudahlah, bikinkan saja kolam renang, dilatih sedikit oleh spesialis pembuat kolam renang, pasti bisalah menjalankan kolam renang. Lebih bisa daripada harus mengoperasikan, misalnya, bengkel sepeda motor atau perdagangan sembako.

Mencari Pelanggannya Tidak Ruwet

Yang kelima, kendala usaha biasanya adalah marketing. Membuat ‘dagangan’, berupa barang atau jasa, itu kadang bisa diatasi dengan lebih mudah, membuka toko, apa susahnya? Membuka bengkel motor, apa susahnya? Tapi, bagaimana mensukseskan pemasarannya? Itu adalah pertanyaan inti enterpreuner yang utama.

Nah, ini pula yang sering membuat orang maju-mundur untuk membuat lapangan olahraga (futsal, badminton, tenis, skating, dlsb). Lapangan bisa di-set-up dengan mudah, tapi kemudian kalau tidak ada yang menyewa, bagaimana? Bikin bengkel motor, tapi terus sepi sunyi, sendiri, rugilah bandar….

Kolam renang relatif berbeda. Karena ini bukan olah raga permainan, dan ada unsur relaksasi, unsur bermain, yang tinggi, dan juga tidak bersifat musiman, laki-perempuan, segala usia, anak-anak bahkan manula juga bisa,… maka, bila lokasi dipilih dengan baik, memasarkan kolam renang cenderung lebih mudah dibandingkan dengan, misalnya, lapangan badminton. Umumnya, pada week-days (senin s/d jumat), kolam renang menyasar pasar pelajar, anak-anak sekolah, mulai dari SD sampai SMA. Perguruan tinggi dan taman kanak-kanak sebetulnya bisa disasar juga, walau sekarang ini kurang lazim.

Caranya bagaimana? Berbagi-hasil dengan pihak sekolahan atau guru-gurunya. Dengan pola ini, sekolah/guru bergerak sebagai ‘pemasar’ yang rajin, karena mereka mendapat bagian, yang jumlahnya bisa cukup lumayan. Jadi,… pemilik kolam renang tidak harus menggaji pegawai sales/marketing yang khusus. Di sisi lain, untuk week-end (sabtu s/d minggu), kolam bisa menyasar pasar keluarga atau perenang umum, yang mungkin jumlahnya lebih sedikit, tapi membayar lebih mahal. Biasanya, pada suatu kota kecil, jumlah kolam renang relatif sedikit, sehingga terkenal, seantero kota, tahu akan keberadaan kolam renang itu, tidak perlu gembar-gembor promosi lagi. Di pihak lain, kalau di kota besar, orang cenderung suka dengan kolam renang yang dekat dengan tempat tinggalnya. Jadi, walaupun kolam renang jumlahnya banyak, tapi yang dekat dengan tiap-tiap pemukiman, tidaklah banyak, klop.

Jarang sekali kota yang punya substitusi untuk kolam renang, berupa danau, atau sungai, yang bening kencling. Kalau tidak mau membayar lapangan badminton, orang bisa tepak-tepakan di jalan depan rumah. Kalau tidak mau membayar sewa lapangan futsal, orang bisa main futsal di lapangan seadanya, tapi berenang,… kalau tidak di kolam renang, mau dimana? Kadang-kadang tidak mudah mencari alternatif lainnnya. Oleh karena itu, sering kita lihat kolam renang itu berjubel.

Di Kolam Renang Bisa Ada Bisnis Sampingannya

Yang keenam, bisa ada bisnis ikutan yang juga profitable di kolam renang yang terkelola dengan baik. Berbeda dengan lapangan badminton yang ‘relatif sepi’, kolam renang biasanya ramai kemrubut, dan biasanya orang berenang mudah lapar (atau haus juga!), sehingga bisnis makanan/minuman bisa jadi bisnis sampingan yang amat menguntungkan. Bisa pula dilirik pendapatan perparkiran, bila areanya memungkinkan.

Begitu banyak titik menariknya, tapi mengapa orang masih sedikit yang melirik ke bisnis ini? Mudah saja jawabannya, karena banyak orang belum tahu cara-caranya! Itulah yang akan diulas pada paket tulisan-tulisan di sini. Apakah mahal membuat kolam renang? Mahal itu relatif. Kalau anda melihat bangunan fisik kolam, katakanlah seluas 300 m2, lalu anda lihat bangunan fisik rumah tinggal, yang ukurannya 300 m2 juga, anda tentu akan yakin bahwa bangunan kolam renang itu lebih murah biaya pembangunannya dari rumah dengan luas yang sama. Dan memang demikian adanya. Jadi, kalau anda memiliki kesanggupan untuk membuat rumah seukuran 300 m2, mestinya membuat kolam renang pun anda bisa…. (YW)

sumber : http://www.ilmuiman.net